KETIKA MIMBAR KEHILANGAN ADAB
Mimbar agama seharusnya menjadi tempat meninggikan akhlak, bukan tempat merendahkan martabat manusia. Ceramah semestinya membuat kita semakin mengenal Allah, semakin menghormati sesama, dan semakin malu untuk mengucapkan sesuatu yang tidak pantas.
Ironis ketika perempuan dijadikan bahan candaan vulgar, jamaah ditertawakan melalui ucapan yang merendahkan, lalu semuanya seolah dianggap wajar hanya karena dibungkus dengan kata bercanda.
Sejak kapan label humor menjadi pembenaran untuk mengabaikan adab?
Seorang pendakwah tentu boleh humoris. Namun, semakin besar pengaruhnya, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam menjaga ucapan. Sebab, tidak semua yang mengundang tawa itu mendidik, dan tidak semua yang membuat jamaah terhibur itu mencerminkan kemuliaan akhlak.
Kita juga perlu bermuhasabah sebagai jamaah. Jangan sampai karena kagum kepada sosok tertentu, kita kehilangan keberanian untuk membedakan mana nasihat yang mencerahkan dan mana ucapan yang patut dikoreksi.
Gelar tidak membuat ucapan otomatis benar. Popularitas tidak menjadikan perilaku kebal dari kritik. Dan nasab tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan adab.
Menghormati ulama dan pendakwah bukan berarti membenarkan semua perkataannya. Justru kritik yang santun dan berlandaskan nilai agama merupakan bagian dari upaya menjaga kehormatan dakwah itu sendiri.
Mari kembalikan mimbar kepada tujuan mulianya: menyampaikan ilmu, menumbuhkan ketakwaan, dan memuliakan manusia.
Sebab, ukuran kemuliaan seorang pendakwah bukan sekadar berapa banyak orang yang datang, seberapa besar honor yang diterima, atau seberapa keras jamaah tertawa, melainkan seberapa besar ilmu dan akhlaknya membawa manusia kepada kebaikan.
Jangan sampai kita sibuk membela sosok, tetapi lupa membela nilai-nilai yang diajarkan oleh agama.
Ustad Fajrin Maulana, M.Ag
#Muhasabah #EtikaDakwah #AdabSebelumIlmu #KritikDakwah #AkhlakIslam

Post a Comment